Tuesday, April 2, 2019

DILEMATISNYA MENENTUKAN TAMU YANG DIUNDANG DI NIKAHAN

DILEMATISNYA MENENTUKAN TAMU YANG DIUNDANG DI NIKAHAN



Orang indonesia , memang dikenal dengan masyarakat yang komunal . jadi , bisa punya banyak kerabat atau paling tidak ngerasa punya banyak kerabat . seolah-olah semua orang yang di kenal bisa langsung jadi teman atau saudara . langsung kayak punya ikatan khusus . padahal , di satu sisi ini menyenangkan . contohnya saja kalau kena cegatan . saudara jauh yang punya posisi agak bagus di situ dengan gaya meyakinkan .

Tapi sayangnya , di sisi lain hal ini cukup meribetkan seperti yang di alami oleh teman saya yang bakal menggelar pesta pernikahan nya . saat ini , ia sungguh mengalami dilema untuk membatasi pertemanannya yang sebetulnya juga nggak luas-luas amat . 

Pengen nya sih , semuanya aja di undang dinikahan . tapi masalahnya , venue-mya terbatas . belum lagi kalau udah mulai hitung-hitungan soal katering dan souvenir . budget juga termasuk sumber daya yang terbatas , katanya sangat penting di awal untuk betul-betul menentukan kuota . harus patuh dengan kuota tersebut .

Akhirnya , teman saya ini berusaha menyaring dengan seksama teman-temannya sementara untuk keluarga dan tetangga , dia menyerahkan pada orang tuanya , baik teman bergaul yang benar dan nggak benar , teman kerja , hingga teman sekolahnya , untuk teman sekolah tidak hanya teman sejak TK , tapi juga sejak PAUD  semua nya dia telah satu persatu , membuatnya pusing . ada grup chat yang memudahkannya menginat nama teman-temannya dengan hanya membuka bagian group baru .

Setelah semua data terkumpul , dia bagi mereka-mereka ini dalam tiga klasifikasi atau prioritas yakni yang perlu di undang di nikahan , yang mungkin di undan dan nggak perlu-perlu amat di undang . dia akan memprioritaskan dari teman-teman yang masih sering callingan sama dia . baik via chat maupun media sosial .

Meski sudah berusaha nge-list mati-matian , ternyata teman saya ini tak cukup rela tidak mengundang orang-orang yang masuk kategori "mungkin di undang" , atau "nggak perlu-perlu amat di undang" mungkin , kita memang pernah akrab dengan mereka pada suatu masa . namun , bukankah tidak semuanya masih menjalin hubungan yang sedekat dulu? memikirkan lagi kapan kita terakhir bertemu dan berbicara dengan mereka .

Masalah selanjutnya , tidak berhenti di situ . setelah dia sudah berusaha keras memfilter semua nama-nama itu , ternyata ketika di tanya di kumpulkan dengan data orang tuanya . Rata-rata dengan pertimbangan orang tuanya pernah di undang di nikahan .

Doa semakin tak habis pikir , bagaimana mungkin dia sanggup menyalami orang-orang yang sebegitu banyaknya . berapa banyak waktu yang di perlukan untuk menjaga dirinya supaya tetap tersenyum dan tampak bahagia saat di pampang di atas pelaminan .

Dia pun mulai mempertimbangkan lagi nama-nama yang telah di-list nya sendiri . kira-kira apa yang harus dia lakukan untuk menyiasati data nama dari orang tuanya yang tampak seenaknya itu . kalau dia harus memapas lagi , apa kata mereka ? tapi , kalau nggak di batasi dengan maksima; justru malah jadi begini .

Meyakinkan orang tuanya untuk mengurangi sedikit lagi tamu yang di undang di nikahan , sulitnya sungguh karuan . apalagi , mengharapkan sebuah pesta pernikahan yang intim , hanya di hadiri oleh orang-orang terdekat . yaudah akhirnya teman saya ini berusaha menerima bahwa dia nggak akan bisa membahagiakan semua orang . meski akan ada kemungkinan dia musuhi oleh teman-teman yang tidak di undang .





No comments:

Post a Comment