Tuesday, March 26, 2019

"Satu dari Tiga Mahasiswa Jakarta Punya Suicidal Thought"


Belum ada penelitian terbaru yang mengungkap faktor risiko apa saja yang membuat mahasiswa indonesia punya pikiran untuk bunuh diri .

Belakangan , kasus bunuh diri mahasiswa yang di duga karena tugas atau skripsi makin banyak . sejak mei 2015 sampai desember 2018 saja , riset tirto dari beragam pemberitaan online mencatat ada 20 kasus bunuh diri mahasiswa yang di duga terkait dengan tugas nya . 

Fenomena ini dikuatkan oleh riset benny prawita siauw , psikolog dan kepala koordinator into the light , komunitas pemerhati pencegahan bunuh diri . di riset benny menemukan 32.5 persen dari 284 responden mahasiswa jakarta dari beberapa universitas swasta dan negeri punya suicidal thought .

Benny mengambil respondennya tidak secara proposional. "saya enggal ambil secara proporsional : setiap kampus harus beberapa orang , berapa orang. tapi , emang semua di jakarta . beberapa swasta dan negeri . 
Berikut wawancara saya dengan benny untuk membahas isu depresi dan bunuh diri di kalangan usia remaja beranjak dewasa , masa transisi bagi sebagian besar anak-anak muda indonesia.

Kenapa tertarik meneliti responden dengan rentang usia 19-25?

Dalam penelitian global , range 19-25 itu memang paling susah nyari bantuan . bahkan lebih susah (cari bantuan) , di banding (kelompok umur sama) yang engga kuliah . seperti inggris , US , dan jepang . jadi , saya tertarik mau tahu gimana di indonesia .

Jadi , apa yang jadi faktor risiko terhadap mahasiswa?

Kalau di jakarta masih belum bisa di jabarkan apa . perlu penelitian selanjutnya . into the light tahun ini berencana akan bikin , sih , jadi , kalau kayak (studi) peltzer disebut itu apa-apa aja yang jadi faktor risikonya . apakah sama?

Jangan-jangan enggak ada faktor akademisnya , malah faktor orangtuanya yang lebih berpengaruh . atau , bisa jadi , karena situasi kampusnya yang terlalu kompetitif .

Penelitian seperti itu belum pernah ada di indonesia ?

Waktu itu pernah ada . tapi , kualitatif , dan sampelnya baru 14 orang . jadi enggak berani digeneralisasi dan tidak semuanya mahasiswa . jadi tidak bisa melihat populasi nya gimana . 

Maka , perlu penelitian lebih lanjut ?

Perlu penelitian lebih lanjut . memang , salah satu kelemahan riset bunuh diri dengan menggunakan alat ukut yang langsung take directiok gitu ( responden ) akan malu . tapi , kalau dia yah ( responden ) masih malu-malu di jakarta .

Kalau di bandingkan di luar indonesia , sudah cukup terbuka kah dengan isu kesehatan mental ?

Lagi-lagi ya , riset bunuh diri di indonesia masih sangat sedikit , jadi agak susah untuk bilang ( sudah cukup terbuka ) . tapi , kecenderungan nya sejak 2012 , kita sudah lebih intes membicarakan bunuh diri lewat into the light .

Lalu , selebgram-selebgram mulai coming out dengan kondisi suicidal mereka . narasi yang lebih positif itu sudah terbentuk . mungkin terutama di daerah jawa , yang jadi central of everything in indonesia .

Engga ada indikator yang bisa di pakai untuk hitung itu ?

Engga ada , agak susah kalau tren global sih mereka bilang , negara-negara muslim agak susah untuk terbuka . karena sangat di condemn-kan , kalau kejadian itu jadi ;ebih susah (di tangani) , perlu banget narasi positifnya misalnya jangan bahas dengan embel dosa atau neraka .

Efektif ? 

Kalau itu kita perlu evaluasi lebih lanjut , mereka yang sering mengundang sekolah , murid-murid untuk bicarain soal bunuh diri .

Kita juga sempat juga ngajakin ngomong anak-anak , sedikit banyak adalah dampaknya kita juga butuh yang jangka panjang . kita mesti interverensi yang sangat sistemik .

Misalnya , kalau di temukan ternyata penyebabnya adalah masalah ekonomi berarti ekonominya yang akan di perbaiki . bisa jadi itu salah satu faktor yang signifikan .

Modul dari luar negeri enggak bisa di contoh ?

Modul nya banyak tinggal , menyesuaikan aja , tetapi kalaupun mau di comot dari luar negeri materinya belum tentu cocok .

misalnya , jenis stigma di cina dan australia itu ternyata beda , punya konsep kekeluargaan , bakti pada orangtua , di australia engga sekuat disana .

Pemberitaan bunuh diri juga masih banyak stigma . apa dampaknya pada keluarga yang di tinggalkan ? 

Sebenarnya saya lebih concern sama keluarga yang di tinggalkan , mereka berduka . berduka itu engga bisa kami omongkan dengan ceramah , dalam berbagai literatur mereka juga suicidal karena mereka sedih iya , marah iya , belum lagi distigma . mereka juga butuh perhatian yang khusus .

















No comments:

Post a Comment